Kamis, 04 Juni 2009

kumpulan karya

Judul Penelitian:
Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling dalam Rangka Pencegahan Pelanggaran Tata Tertib Sekolah Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri. 2 Klakah Lumajang Tahun Pelajaran 2006/2007
A. Latar Belakang
Di dalam dunia pendidikan masalah bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang bersumber dari manusia, kenyataannya manusia di dalam kehidupan sering menghadapi persoalan-persoalan yang silih berganti. Persoalan yang satu dapat diatasi persoalan yang lain muncul demikian seterusnya dan kadang-kadang manusia dapat mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya tanpa ada bantuan dari orang lain, dan tidak sedikit manusia yang tidak sanggup mengatasi persoalan-persoalan tanpa adanya bantuan dan pertolongan dari orang lain. Dengan demikian pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat diperlukan dalam mengatasi segala permasalahan yang timbul pada manusia.
Bimbingan dan konseling sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai masalah yang bersifat pengarahan terhadap segala problem yang dihadapi manusia, dan tugas pembimbing adalah menyampaikan (mengatasi) dengan cara-cara yang baik, menyuruh hal-hal yang baik dan mengingatkan segala perbuatan yang dilarang oleh agama. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Surat Ali Imron ayat 104 sebagai berikut :
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَىاْلخَيْرِوَيَأْمُرُوْنَ باِلمَعْرُوْفِ وَينْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرْوَاُلئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ (سورة ال عمران: 104)
Artinya : “Dan Hendaklah ada diantara ummat kamu ummat yang menyeru kepada kabajikan, dan menyeruh kepada yang makruf (yang baik) dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah yang menang.” Q.S. Ali Imron: 104 (Depag RI., 1992: 93)
Ayat tersebut mengandung maksud suatu perintah untuk beramar makruf nahi mungkar, yakni wajib bagi umat Islam untuk mengerjakan atau melaksanakan bimbingan dan konseling disegala sektor kegiatan, baik dilembaga formal maupun non formal.
Dalam era informasi dan komunikasi global yang disebabkan oleh berbagai alat komunikasi baik melalui media cetak dan media elektronika sehingga siswa banyak dijadikan sorotan obyek pembahasan baik dalam hal tingkah laku maupun dalam kegiatan belajar mengajar. Para ahli menganggap bahwa melihat kejadian dalam layar dapat merangsang siswa dalam kegiatan belajar mengajar, hal ini perlu adanya bimbingan dan arahan untuk menyelesaikan permasalahan belajar yang dihadapi siswa. Sebagaimana dijelaskan berikut ini :
Bimbingan merupakan suatu tuntunan atau pertolongan. Bimbingan merupakan suatu tuntunan, ini mengandung suatu pengertian bahwa di dalam memberikan bantuan itu bila keadaan menuntut adalah menjadi kewajiban bagi para pembimbing secara aktif kepada yang dibimbingnya. Jadi di dalam memberikan bimbingan arahan, diberikan kepada siswa yang dibimbingnya. Pembimbing tidak pada tempatnya membiarkan individu (siswa) terlantar (kesulitan) dalam menghadapi masalahnya. Dan dalam hal ini dapat diberikan secara individu atau sekumpulan individu ataupun secara berkelompok (Walgito, 1993: 3).
Pelaksanaan program bimbingan dan konseling harus dipimpin oleh seorang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling, serta sanggup bekerjasama dengan para pembantunya dan dapat mempergunakan sumber-sumber yang berguna di luar sekolah. Dengan melaksanakan program dengan baik, seorang pimpinan program mutlak harus dapat bekerjasama dengan orang lain. Ini sesuai dengan konsep memimpin, yaitu memimpin merupakan pekerjaan yang dilakukan melalui dan bersama-sama denga orang lain; dan itu merupakan salah satu keahlian yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin program bimbingan dan konseling dalam membantu siswa menyelesaikan masalah belajarnya ( Mapiare, 1984: 185 ).
Pelaksanaan bimbingan dan konseling yang dilakukan guru dapat menyelesaikan kesulitan belajar siswa. Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang inti atau utama. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa secara psikologis belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagaimana hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. (Muhlis, 2000: 189)
Dalam kegiatan belajar siswa mempunyai banyak permasalahan, baik dengan dirinya sendiri, teman, lingkungan maupun keluarganya. Di sekolah sering kali nampak perbedaan yang khas antara siswa yang satu dengan yang lain. Timbulnya perbedaan ini dapat dikembalikan kepada faktor pembawaan dan lingkungannya, sebagai komponen bagi terbentuknya keunikan siswa. Sebagai contoh ada siswa yang sangat cepat dan lambat dalam menangkap mata pelajaran, ada yang berangkat dalam bidang-bidang tertentu dan lain sebagainya. Sehingga tidak mustahil kalau siswa memiliki permasalahan yang beraneka ragam sesuai dengan keberadaannya masing-masing.
Namun pada dasarnya banyak siswa yang kurang menyadari bahwa dalam dirinya terdapat masalah yang harus dipecahkan. Dengan alasan inilah perlu dilaksanakan program bimbingan dan konseling di sekolah, sehingga dapat membantu dalam pemecahan masalah yang dihadapi siswa. Oleh karena itu memecahkan masalah banyak pendekatan yang nantinya bisa meningkatkan data frekuensi permasalahan yang diselesaikan. Hal ini salah satu prinsip yang harus dilaksanakan dalam memberikan layanan, sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.
Dasar bimbingan merupakan suatu perwujudan dari pandangan psikologis manusia, khususnya siswa yang dibimbing merupakan penyelenggaraan dinamika kerja bimbingan. Kemudian dasar dari bimbingan dan konseling tidak lepas dari dasar pendidikan dan pembelajaran pada umumnya (Sarwan,1999: 33). Dasar pendidikan dan pembelajaran sebagaimana dijelaskaan dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab VIII Pasal 34 bahwa :
1) Setiap warga negara berhak yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar.
2) Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan tanpa memungut biaya.
3) Wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat.
4) Ketentuan mengenai wajib belajar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. (2003: 49)
Upaya peningkatan taraf kehidupan bangsa dan pengembangan kebudayaan nasional dengan harapan dapat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, pada kenyataannya selalu berubah sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam proses pendidikan, program bimbingan dan konseling merupakan keharusan yang tidak dapat dipisahkan dari program pendidikan pada umumnya. Apabila dalam situasi sekarang ini, dimana fungsi sekolah atau lembaga pendidikan formal itu tidak hanya membekali para siswa dengan setumpuk ilmu pengetahuan saja, tetapi juga memepersiapkan para peserta didik itu sendiri dan umumnya bagi pihak-pihak yang terlibat di dalam dunia pendidikan. Para peserta diudik akan menghadapi masalah pemilihan spesialisasi, pemeliharaan jurusan, pemilihan program, masalah belajar, masalah penyesuaian diri, masalah pribadi dan sosial dan lain sebagainya yang membutuhkan penanganan dan bantuan dari bidan pembinaan pribadi, yang merupakan bagian integral dari keseluruhan sistem pendidikan formal (Hallen, 2002: 40-41).
Terkait dengan perlunya bimbingan dan konseling di sekolah atau lembaga pendidikan maka nampaknya kehadiran pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya merupakan keharusan, tetapi juga menuntut suatu lembaga dan tenaga profesional dalam pengolahannya.
Seorang pendidik dalam suatu lembaga pendidikan merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan (Sisdiknas, 2003: 27). Seorang pendidik diharapkan benar-benar profesional dalam menyampaikan materi pelajaran, disamping itu dituntut untuk senantiasa mengetahui perkembangan peserta didik. Hal ini terkait dengan status seorang guru sebagai tenaga pembimbing baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Di sisi lain, seorang guru atau pendidik itu memiliki dua fungsi yaitu sebagai pengajar dan pembimbing dalam pendidikan. Arahan untuk memberikan pendidikan dan bimbingan dalam keluarga serta orang lain agar tidak terjerumus ke dalam kenistaan. Sebagaimana yang digariskan dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim: 6 yang berbunyi :
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْاقُوْاانْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًاوَقُوْدُهَاالنَّاسُ وَالْحِجَارَةُ…(التحريم:6)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu …” (Depag RI, 1989)
Dari ayat tersebut, maka bimbingan dan konseling sangat diperlukan dalam rangka memberikan arahan bagi peserta didik dalam perkembangannya. Karena itulah peranan bagi petugas bimbingan dan konseling di sekolah sangat besar untuk mengarahkan dan bagaimana dalam memecahkan problem yang dihadapi oleh siswa.
Dalam proses pembelajaran, guru harus dapat mengatur kelasnya dengan sebaik mungkin. Karena tugas guru tidak hanya sebagai transfer of knowledge, akan tetapi, bagaimana seorang guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa agar tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan. Bagaimana guru mengatur kelasnya dengan baik seperti diungkapkan oleh Muhammad (1981: 92) bahwa kegagalan guru dan ketidakberhasilan pelajaran disebabkan oleh jeleknya pengaturan kelas.
Dalam pengaturan tata tertib dan memelihara ketenangan siswa merupakan akan membantu untuk menanamkan kepatuhan anak-anak yang merupakan pangkal kesuksesan bagi pendidikan dan kehidupan pada umumnya, serta akan menumbuhkan budi pekerti yang terpuji dalam jiwa mereka dan mendorong mereka untuk selalu tunduk kepada tata tertib (Muhammad, 1981: 93)

Di Madrasah Aliyah Negeri Jember 2, masalah penanggulangan kesulitan belajar terus menerus dilaksanakan yaitu dengan jalan bimbingan dan konseling baik secara individu maupun secara kelompok untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam berbagai hal terutama masalah kesulitan belajar, baik peserta didik yang lambat dalam belajar maupun yang cepat dalam belajar. Maka untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam rangka pencegahan pelanggaran tata tertib tentunya membutuhkan dan memerlukan adanya penelitian dengan penuh tanggung jawab dan tidak meninggalkan teori-teori yang ada.
Dalam pelaksanaan tata tertib di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang sebenarnya sudah berjalan dengan baik. Hal ini terbukti setiap siswa atau karyawan yang melanggar tata tertib tersebut ditindak dan diberi sanksi yang disesuaikan dengan pelanggaran yang dilakukannya. Bahkan sekolah tidak segan-segan mengeluarkan siswa dan karyawan, apabila mereka melakukan tindakan pelanggaran berat.
Fenomena inilah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan maksud ingin mengetahui bagaimana pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam rangka pencegahan pelanggaran tata tertib sekolah siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun Ajaran 2006/2007?
1) Alasan Pemilihan Judul
Judul yang angkat dalam penelitian ini sangat menarik untuk dikaji dan dibahas sehingga kami terdorong untuk memilih judul “ pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam rangka pencegahan pelanggaran tata tertib sekolah pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri. 2 Klakah Lumajang tahun pelajaran 2006/2007. Berdasarkan pertimbangan maka alasan dalam pemilihan judul terbagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Alasan Obyektif
a. Karena bimbingan dan konseling di sekolah merupakan suatu yang dianggap sebagai pedoman dalam memberikan nasehat kepada peserta didik dalam pelanggaran tata tertib di sekolah
b. Bimbingan konseling memiliki tempat tersendiri dalam komunitas sekolah dalam penanganan kasus terutama mereka-mereka yang tidak mematuhi tata tertib di sekolah
2. Alasan Subyektif
a. Masalah yang terkandung dalam hal ini sangat menarik sesuai dengan ilmu yang dimiliki dan berusaha untuk mengembangkan dalam penelitian.
b. Judul tersebut terjangkau dalam memperoleh sumber data yang diperlukan.
c. Adanya kesediaan Dosen Pembimbing untuk memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penelitian ini.

2) Fokus Masalah
Masalah merupakan suatu problematika yang dipecahkan agar memudahkan dalam merumuskan dan menghimpun permasalahan yang ada. Adapun fokus masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Pokok masalah
Bagaimana pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam rangka pencegahan pelanggaran tata tertib di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun pelajaran 2006/2007?
2. Sub Pokok masalah
a. Bagaimana pelaksanaan Bimbingan dan Konseling secara individu siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun pelajaran 2006/2007?
b. Bagaimanakah pelaksanaan bimbingan dan Konseling secara kelompok siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun pelajaran 2006/2007?
c. Bagaimana pelanggaran tata tertib di dalam kelas siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun pelajaran 2006/2007?
d. Bagaimana pelanggaran tata tertib di luar kelas siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun pelajaran 2006/2007?
3) Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini dapat mengetahui dan menemukan kelemahan atau kesenjangan antara teori dengan realitas yang terjadi di lapangan, maka dalam penulisan ini dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Tujuan Umum.
Untuk mendiskripsikan pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam rangka pencegahan pelanggaran tata tertib di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun pelajaran 2006/2007
2. Tujuan Khusus.
a. Untuk mendiskripsikan bimbingan dan konseling secara individu siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun pelajaran 2006/2007
b. Untuk mendiskripsikan pelaksanaan bimbingan dan konseling secara kelompok siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun pelajaran 2006/2007
c. Untuk mendiskripsikan pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam pencegahan pelanggaran tata tertib di dalam kelas siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun pelajaran 2006/2007
d. Untuk mendiskripsikan pelaksaanaan bimbingan dan konseling dalam pencegahan pelanggaran tata tertib di luar kelas siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun pelajaran 2006/2007
4) Kerangka Teoritik
1. Kerangka Teoritik Tentang Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling sangat urgen dalam kehidupan manusia.dalam mengkaji secara mendalam, dan disadari bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang sempurna dan mendapat amanat sebagai pemimpin di muka bumi. Dengan demikian manusia akan menumbuh kembangkan potensi dirinya sesuai kemampuan yang dimiliki. Perkembangan itu baik terkait dengan orang lain atau kelompok, maka hal ini sesuai dengan dimensi-dimensi kemanusiaan yang mempunyai beberapa kecendrungan.
pertama manusia antara yang satu dengan yang lainnya terdapat perbedaan, perbedaan tersebut akan sesuai dengan kebutuhan pola pikir manusia itu sendiri.
Kedua manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi dengan orang lain dimana manusia akan saling melengkapi dari kekurangan yang satu dengan yang lain, sehingga tidak dielakkan jika akan membagi kebahagiaanya dengan orang yang dianggap satu pemikiran atau satu visi (Prayitno, 1994: 12).
Ketiga kehidupan tidak serta merta hidup dan berkembang maju kecuali melalui tahapan-tahapan yang sistematis yang akan menuntun manusia pada tingkah laku yang dewasa. Untuk mengembangkan pengetahuannya dan disamping itu manusia akan hidup dalam aturan-aturan masyarakat atau aturan ilahi sebagai makhluk pengabdi maka kehidupan manusia akan termotifasi untuk meningkatkan kemampuannya agar diterima di masyarakat luas.
Keempat demensi manusia terkait dengan keagamaan didalamnya akan membahas aturan yang akan di pertanggung jawabkan di akherat kepada Allah (Prayitno, 1999: 14). Dimensi kegamaan ini jika manusia menghayati dengan seksama maka akan berimplikasi terhadap pola tingakah laku manusia untuk mencapai dimensi ini tidak mudah untuk sampai pada kebaikan yang sempurna, karena terkait dengan pola kehidupan yang berperan dalam dalam pengalamanya hal ini secara struktur lingkungan akan membentuk pola pikir manusia khususnya pesertra didik yang sangat urgen untuk membentuk manusia yang bermoral, hal ini berkenan dengan potensi emosional, karena menurut Goleman sebagaimana yang dikutip oleh Suparno (2002: 30) mengatakan kecerdasan emosional lebih unggul dari pada kecerdasan intelektual yang dasar penyentuhannya pada keberhasilan hidup di tengah-tengah masyarakat, pencapaian idealisme ini dibutuhkan perhatian yang khusus baik di sekolah maupun di luar sekolah yaitu di adakanya bimbingan dan pengarah dari berbagai pihak, baik dari keluarga sebagai interasi dalam kehidupan manusia, maupun lingungan yang ikut ambil peran dalam pembentukan pola pikir peserta didik.
Karena bimbingan sangat efektif untuk mengarahkan seseorang pada tindakan yang lebih baik maka dapat dilakukan secara struktur maupun non structural. Secara strutur sering dijumpai di sekolah-sekolah untuk mengatasi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar yang berupa bimbingan dan konseling sebelum membahas bimbingan terlebih dahulu mengetahui apakah bimbingan dan konseling karena keduanya merupakan satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan.
a. Pengertian Bimbingan dan Konseling.
Menurut (Hallen, 2002: 3) bimbingan adalah menunjukkan, menuntun, suatu proses bantuan individu melalui usaha sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan sendiri agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan manfaat sosial.
Suatu proses bantuan yang diberiakn kepada seseorang agar mamerkembangkan potensi diri yang dimiliki, mengenali dirinya sendiri, mengatasi persoalan-persoalan yang mereka dapat menentukan sendriri jalan hidupnya secara bertanggung jawab pada orang lain (Sukardi, 2002: 65).
Dari pengertian di atas dapat mengandung makna filosofis yang sangat mendasar bagi peserta didik secara individu atau kelompok untuk memberikan bantuan yang berupa nasehat atau saran untuk menuntun kepada jalan yang baik sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
اُدْعُ اِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ عَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ (النحل:125)
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajarn yang baik dan bantulah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang dapat petunjuk” (Q.S. An-Nahl:125) (Depag RI, 1989: 421).

Kemudian Walgito menyatakan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya (2004:5).
Pengertian ini sangat urgen untuk diberikan kepada lembaga yang notabene adalah terdiri dari peserta didik yang sangat membutuhkan bantuan untuk diarahkan pada yang baik untuk menemukan jati diri. Dalam lembaga pendidikan kenakalan siswa di tingkat Madrasah Tsanawiyah atau Sekolah Menengah Pertama. sangat fundamental, karena peserta didik pada usia ini mengalami kegelisahan untuk menentukan jalan hidupnya, maka peran sebagai pendidik yang profesional harus memahami setiap perkembangan kejiwaan peserta didik untuk memberikan perhatian bagi peserta yang mendapat kesulitan belajar.
Pengertian konseling menurut Walgito adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupan dengan wawancara dan dengan cara yang sesuai dengan keadaaan yang dihadapi individu untuk mencapai kesejahteraan hidupnya (2004: 7). Kemudian konseling menurut Tolbart (dalam Prayitno, 1999: 101) adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya menyediakan situasi belajar bagi peserta didik.
Berbicara tentang konseling merupakan wadah aktivitas penanganan masalah yang dihadapi oleh klien, maka yang berfungsi disini adalah tenaga profesional dalam melaksanakan tugas menyelesaikan dan memberikan masukan pada klien agar supaya klien yang mempunyai masalah bisa bangkit kembali membangun jati dirinya menumbuhkan self confidence. Dengan memberiakan dan mendiskusikan masalah yang sedang terjadi pada klien kemudian memberikan arahan positif kepada kliennya sebagaimana telah tersirat dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
هَآنْتُمْ هؤُلاَءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَوةِالدُّنْيَا فَمَنْ يُجَا دِلُ اللهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَمَّنْ يَكُوْنُ عَلَيْهِمْ وَكِيْلاً (النساء:109)
Artinya: “Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini, maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) pada hari kiamat? atau siapakah yang jadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)” (Q.S. An-Nisa’:109 ) (Depag RI, 1986: 140).

Jelas bahwa pengertian antara bimbingan dan koseling sangat erat hubungannya dan saling mengisi satu dengan yang lainnya sesuai dengan yang dikatakan “Jones” kenseling merupakan salah satu teknik dari bimbingan, sehingga dengan pandangan ini maka pengertian bimbingan adalah mempunyai pengertian yang lebih luas bila dibandingkan dengan konseling karena merupakan bagian dari bimbingan” (1988: 5). Pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bimbingan lebih menitik beratkan pada konsep pengarahan menuju pada sebuah lokasi atau lebih cenderung pada proses, sedangkan konseling lebih banyak menangani persoalan yang dihadapi peseta didik untuk lebih mengerti terhadap masa-masa yang akan dihadapi, atau memberikan solusi alternatif pada mereka agar secara mental lebih tertata sesuai dengan tujuan konseling sesuai dengan pemanfaatannya” (Mappiare, 1992: 45).
Dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling peserta didik mendapatkan pemanfaatan dan diharapkan menjadi manusia seutuhnya dan dapat bermanfaat dalam hidupnya. Untuk mencapai tujuan pelaksanaan bimbingan konseling, sekolah membentuk organisasi bimbingan dan konseling. Organisasi bimbingan dan konseling yang baik dalam lembaga sekolah tidak harus seragam antara lembaga yang stau dengan lembaga yang lain baik pelaksanaannya atau fungsi strukturnya, setiap sekolahdapat menyusun struktur tersebut disesuaikan dengan kebutuhan lembaga sekolahnya (Sukardi, 2002: 23).
Struktur organisasi dalam setiap lembaga akan lebih efektif jika model dan tipenya disesuaikan dengan lembaga pendidikan tersebut, karena disadari atau tidak setiap lembaga pendidikan akan mempunyai cirikhas yang berbeda dan persoalan yang dihadapi tidak sama, maka yang perlu diperhatikan dalam bimbingan, secara terstruktur organisasi bimbingan dan penyuluhan adalah keharmonisan adanya kerjasama diantara pihak-pihak terkait khususnya yang ada dalam organisasi sekolah.
Dengan adanya struktur organisasi ini akan menjadi mudah dalam mengatasi prblem yang harus ditangani oleh tenaga konselor dan dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi. Dengan demikian lembaga sekolah akan memilih pola organisasi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh peserta didik sesuai dengan letak geografis lembaga sekolah tersebut.
Dalam memberikan bimbingan kepada peserta didik dibuthkan tenaga yang profesional sehingga betul-betul mampu membaca perkembangan peserta didik yang bersalah atau mereka yang mempunyai gejala-gejala berkesulitan dalam belajar. Walaupun seorangt guru materi pelajaran dituntut untuk berperan aktif dalam bimbingan ini, akan tetapi peran guru dalam studi hanya hanya memberikan laporan tentang perkembangan, penilaian prestasi belajar, catatan observasi dan catatan kejadian siswa kepada tenaga khusus yang berkompeten di bidang bimbingan dan konseling yaitu tenaga konselor (Sukardi, 2002: 89).
Bimbingan dan konseling ini akan lebih efektif jika bisa melibatkan secara khusus tenaga yang dikhususkan oleh lembaga sekolah yang terdiri dari; psikolog sekolah, psikiater sekolah, dokter, atau juru rawat sekolah, pekerja sosial sekolah dan tenaga khusus lainnya (Sukardi, 2002: 90).
Penanganan bimbingan ini tidak mudah, maka dari itu akan melibatkan orang-orang yang profesional. Disamping itu tenaga yang lain bukan tidak dibutuhkan dalam penanganan proses bimbingan ini, tenaga yang lain secara non formal diharapkan memberikan atau ikut mendukung dengan memberi laporan tentang perkembangan peserta didikbaik perubahan tingkah laku atau potensi belajarnya, sehingga antara yang satu dengan yang lainnya seorang konselor mempunyai catatan sendiri mengenai perkembangan peserta didik yang berorientasi terhadap kemudahan penanganan peserta didik yang mempunyai kesulitan dalam belajar.
Untuk mempermudah dalam bimbingan dan konseling, maka tenaga konselor mengidentifikasi masalah yang dihadapi klien dan disesuaikan dengan metode pendekatannya yang dipakai, di samping itu baru mengerti tujuan dan fungsi bimbingan konseling.
b. Tujuan Bimbingan Dan Konseling
Tujuan bimbingan dan konseling menurut (Hallen, 2002: 56) bahwa bimbingan dan konseling ini diberikan kepada peserta didik dalam rangka upaya agar siswa dapat menemukan pribadi, menganali lingkungan dan merencanakan masa depan.
Dalam konseling prefentif, konseling dapat menyajikan informasi pada suatu kelompok dan membantu individu-indinidu mengarah keprogram lerevan, dengan kata lain aktivitas yang mungkin dilakukan konselor dalam konseling prefentif ini adalah pemberian informasi (Mappiare, 1992: 26).
Dapat mengenal dirinya adalah mengenal kekuatan atu potensi dirinya sebagai peserta didik dan mengenali kekurangannya yang ada pada diri peserta didik, kemudian dapat menerima secara positif dan dinamis sebagai upaya pengembangan diri lebih lanjut agar tidak merasa rendah diri dengan mengenal potensi dirinya maka akan termotivasi untuk membenahi dan lebih giat dalam belajar.
Dengan mengenal dirinya maka juga akan berimbas terhadap lingkungan dengan membaca realitas yang berkembang di masyarakat, kemudian mampu memposisikan dirinya di masyarakat atas kemampuan yang ia dapatkan dan yang terakhir peserta didik mampu merancang atau merencanakan masa depan yang lebih bagus untuk mencapai kesuksesan peserta didik dengan penggalian potensi dirinya.
Dalam konsep islam Helen menegaskan bahwa untuk meningkatkan kesadaran manusia tentang eksistensinya sebagai makhluk khalifah Allah SWT, sehingga setiap tingkah lakunya tidak keluar dari tujuan hidup yakni menyembah kepada Allah. Dimana manusia mempunyai sifat fitrah untuk beragama (2002: 58).
Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَتَ اللّهِ الَّتِى فَطَرَالنَّاسِ عَلَيْهَا لاَتَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ اَكْثَرَالنَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ (الروم: 30)
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Q.S. Ar-Rum: 30) (Depag RI, 1989: 645).

Begitu pula ditegaskan oleh (Walgito,2004:33) bahwa tujuan bimbingan dan konseling ini tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional No. 20 tahun 2003 dan membantu peserta didik mencapai kesejahteraan, kesejahteraan peserta didik akan memuat dua keadaan darinya, sebagai peserta didik yang harus siap menongsong masa depan, yang kedua sebagai bagian dari masyarakat yang harus diterima eksistensinya dan yang paling urgen untuk mencapai keduanya bagaimana mampu mencetak peserta didik yang berilmu dan berakhlak baik, cakap dan kreatif.
c. Fungsi Bimbingan Dan Konseling
Menurut UU No. 20 tahun 2003 bahwa fungsi darti bimbingan dan konseling disesuaikan dengan fungsi pendidikan yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (Sisdiknas, 2003: 6-7).
Maka dalam proses bimbingan dan konseling berfungsi menurut Walgito (2004: 34) adalah: membantu pendidikan dan pengajaran karena itu semua langkah bimbingan dan konseling harus sejalan dengan langkah-langkah yang diambil dan harus sesuai dengan tujuan pendidikan maka dengan demikian tidak heran jika berlangsungnya pendidikan secara efektif atas dukungan dari bimbingan dan konseling.
d. Jenis Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
Tata tertib adalah sederetan peraturan-peraturan yang harus ditatai dalam suatu situasi atau dalam suatu tata kehidupan tertentu (Amir, 1973: 140). Dengan adanya peraturan-peraturan itu tidak lain adalah untuk menjamin kehidupan yang tertib dan tenang, hingga kelangsungan hidup sosial itu dapat dicapai yaitu dengan cara mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Pengaturan tata tertib ini bukan hanya berguna bagi persiapan dan pendahuluan untuk menyampaikan pengetahuan atau pelajaran saja tetapi juga akan membantu untuk menanamkan kepatuhan dalam jiwa anak, yang mana kepatuhan ini merupakan pengkal kesuksesan bagi pendidikan dan kehidupan pada umumnya, serta akan menumbuhkan budi pekerti yang terpujidalam jiwa mereka dan mendorong mereka untuk selalu tunduk pada tata tertib di sekolah (Muhammad, 1981: 92)
Pengaturan tata tertib di sekolah bukan hanya berguna untuk persiapan dan pendahuluan dalam pencapaian target atau pelajaran saja, tetapi juga sebagai salah satu alternatif pencegahan tata tertib di sekolah, baik pencegahan pelanggaran tartib di dalam kelas maupun pencegahan pelanggaran tartib di luar kelas.
1). Bimbingan dan Konseling Secara Individu
Layanan ini terfokus pada beberapa personal individu atau kliennya sehingga mampu membangun motivasi belajar pada peserta didik dengan bentuk ini”…pelayanan terhadap siswa berhadapan langsung dengan konselor untuk membicarakan masalah-masalahnya” (Sukardi, 2002: 163).
Bimbingan dan konseling individu ini lebih efektif terhadap peserta didik dilihat dari proses perkembangannya, karena konselor dapat memberikan perhatian yang khusus terhadap permasalahan yang dihadapi peserta didik kemudian memberikan motivasi untuk belajar agar peserta didik lebih dewasa dan bisa memechkan masalahnya sendiri.
Metode individu ini akan memakan banyak waktu kepada konselor untuk memberikan masukan atau pangarahan terhadap klien ditentukan beberapa cara yang harus dikuasai oleh konselor dengan memakai beberapa pendekatan, antara lain:
1) Konseling Direktif.
Pada konseling bahwa klien tidak mampu mengatasi sendiri masalah yang dihadapi. Karena itu, klien membutuhkan bantuan dari orang lain, yaitu: konelor (Priyatno, 1999: 229) untuk ikut membantu dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi peserta didik.
Maka cara konseling ini yang proaktif atau mengambil inisiatif adalah konselor, dan kliennya lebih banyak mendengar keputusan dan himbauan dari seorang konselor (Sukardi, 2002: 167).
Bimbingan penyuluhan ini akan mengetahui persoalan yang dihadapi oleh klien secara menyeluruh, sehingga bisa dengan praktis dapat diatasi dengan cepat, akan tetapi seorang konselor tidak dianggap jika seakan mengikuti semua persoalan kliennya, bahkan hal ini jikaterjadi maka akan membantu klien minder.
2) Non Direktif.
Teknik ini berbeda dengan yang pertama, karena teknik ini proses konselingnya atau aktifitasnya banyak diletakkan pada klien. Untuk memecahkan masalah konselor hanya memberikan motivasi. Menurut Rogers (dalam Priyatno, 1999: 300) untuk menyelesaikan masalah adalah menjadi tanggung jawab klien untuk membantu dirinya sendiri. Dengan demikian maka sesuai dengan salah satu prinsip penting dalam konseling non direktif, merdeka dan dapat menyesuaikan diri dengan baik.
Cara yang demikian memberikan suatu keleluasaan bagi klien, dengan cara ini konselor memberikan nuansa demokratis dan peluang untuk bercerita banyak tentang bebagai permasalahan yang dihadapi oleh kliennya, akan tetapi bukan diberikan berbicara tanpa arah. Peranan konselor dalam pendekatan ini hanya memandu dan mengarahkan agar klien bisa menyadari kekurangan dirinya dan secara tidak langsung klien akan mengevaluasi sendiri tentang kekurangan dan masalah yang dihadapi selama ini sehingga mampu untuk membenahi dirinya dan dapat bangkit memotivasi untuk belajar, menyongsong masa depan yang gemilang.
3) Elektrik
Pada pendekatan elektrik ini sanngat ditentukan oleh kebutuhan siswa atau kliennya dimana konselor benar-benar mempunyai keterampilan dan kemampuan membaca serta menganalisa kebutuhan atau perkembangan anak pada usis tingkat dasar ini, mereka rata-rata masih dikuasai oleh egosentrasinya”….anak ini belum dapat menempatkan dirinya dalam keadaaan orang lain (Monk, 1985: 99).
Anak pada usia ini mempunyai kecenderungan untuk tidak percaya pada orang tua, sehinggga lebih banyak percaya pada teman sebaya atau teman sekelasnya dan guru. Maka metode ini dipandang perlu untuk anak seusia SMP atau Tsanawiyah.
b. Bimbingan dan Konseling Secara Kelompok
Layanan bimbingan dan konseling diselenggarakan terdiri dari beberapa individu untuk mengatasi beberapa masalah secara kelompok. Cara seperti ini mengingat manfaat dan kegunaannya lebih menekankan pada perlunya efisiensi, perlunya perluasan pelajaran jasa yang mampu menjangkau lebih banyak konsumen secara cepat dan tepat” (Priyatno, 1999: 307).
Metode ini lebih bermanfaat bagi klien dalam rangka menumbuhkembangkan sikap sosial pada diri masing-masing dan memberikan semangat serta tanggungjawab dalam komunitasnya untuk memecahkan persoalan-persoalan yang terjkadi pada kelompok tersebut.
Metode kelompok ini akan memberi pelajaran yang dinamis bagi klien karena pada metode ini rasa sosial dari kliennya tidak akan ditampakkan. Dengan berinteraksi secara lisan atau secara struktur masyarakat di lingkungan itu, hal ini akan mempengaruhi terhadap perkembangan dan tingkah laku peserta didik karena dengan cara kelompok peserta didik akan berusaha beradaptasi dengan lingkungan dan komunitas sekitarnya. Di sisi yang lain akan terikat dengan aturan dan kesepakatan dalam kelompok itu (Ahmadi, 1982: 91).
Dengan bimbingan dan konseling kelompok akan mendapatkan hasil yang baik. Maka beberapa langkah yang harus ditempuh sesuai dengan keberadaaan kelompok tersebut, antara lain:


1) Diskusi kelompok
Pelaksanaan diskusi kelompok harus mendapatkan pengawasan dari guru atau pembimbing, lebih-lebih kalau kelompok itu baru dalam taraf permulaan dimana anggotanya masih belum begitu mapan.
Dalam taraf permulaan perlu adanya bimbingan bagaimana seharusnya kelompok itu berdiskusi untuk memecahkan masalah sesuatu masalah maka guru atau pembimbing dapat segera membantu anak-anak apabila mereka memerlukannya. Tetapi lambat laun secara berangsur-angsur pengawasan tersebu dapat ditinggalkan apabila anak-anak telah mampu diberi kepercayaan terutama didalam menjaga kelancaran diskusi.
Dalam diskusi kelompok diperlukan adanya seorang anak yang memimpin diskusi itu, diskusi tidak harus dipimpin oleh ketua kelompok, tetapi oleh anak yang dipandang mempunyai pengetahuan yang lebih di dalam bidang yang sedang didiskusikan atau dibicarakan. Ini yang disebut sebagai pusat kelompok.
Apabila suatu kelompok tidak dapat memecahkan permasalahan, maka kelompok tersebut dapat menanyakan kepada kelompok-kelompok lain terlebih dahulu dengan perantaraan pusat kelompok. Sebelum menanyakannya kepada guru atau pembimbing. Dengan demikian ada suatu hirarki yang tertentu dalam suatu kelompok. Apabila harus meminta bantuan kepada kelompok lain namun juga tidak pada tempatnya. Apabila ada sesuatu soal yang tidak dapat dipecahkan kemudian didiamkan begitu saja, didalam diskusi ini setiap anggota harus turut serta berbicara secara aktif sehingga ada sesuatu pertanggungjawaban sebagai suatu kelompok yang hidup.
2) Karya wisata
Dalam bimbingan ini siswa dapat menyaksikan secara langsung obyek yang menarik perhatian sesuai dengan disiplin pelajaran di sekolah kemudian disesuaikan dengan kehidupan kelompok, dalam berorganisasi dengan adanya kerjasama, tanggung jawab dan sebagainya.
Sebelum bimbingan ini dilaksanakan guru memberikan orientasi secara umum mengenai obyek yang akan dikunjungi dan mengadakan perencanaan (Sukardi, 2002: 159). Sehingga peserta didik mempunyai gambaran yang luas untuk menghadapi lokasi yang akan didatangi dan membuat hipotesis. Bimbingan ini diharapkan bagi peserta didik untuk mengetahui secara langsung kejadian-kejadian obyek dan kemudian diintegrasikan dengan pengetahuan sesuai dengan mata pelajaran yang bersangkutan.
Dengan metode ini akan menumbuhkan peserta didik untuk belajar lebih giat untuk mengetahui secara seksama materi yang diberikan lalu kemudian akan terjun ke lapangan untuk mengetahui secara dekat proses pembuatan atau penyelesaian masalah yang dihadapi masyarakat tentunya karya wisata ini akan disesuaikan dengan materi pelajaran yang diberikan sebelumnya.
3) Sosio Drama
Bimbingan ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendramatisasi sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang, seperti yang dilakukan dalam hubungan sosial sehari-hari di masyarakat. dari sosio drama ini dapat memecahkan masalah-masalah sosial yang dapat menghambat atau mengganggu belajar.
Sosio drama ini bertujuan untuk menggambarkan, pertama kejadian sosial yang dapat menghambat terhadap kondisi belajar. Kedua, menggambarkan cara mengatasi masalah yang ada di masyarakat. tiga, menumbuhkan sikap kritis terhadap situasi yangperlu untuk diambil atau dibiarkan (dapat mengevaluasi stiap hal-hal yang tidak pantas diambil).
c. Pencegahan Pelanggaran Tata Tertib didalam Kelas
Dalam pelaksanaan belajar mengajar hendaklah diperhatikan beberapa prinsip belajar, sehingga dalam proses belajar mengajar siswa secara aktif mengikuti kegiatan belajar di kelas secara optimal. Guru sebagai pembimbing dalam proses pemberian bentuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimal terhadap sekolah, keluarga serta masyarakat (Hamalik, 2004: 33)
Guru adalah pendidik profesional karena merelakan dirinya menerima dan memikul tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak orang tua. Sedangkan sekolah adalah areal untuk mengembangkan aktifitas belajar siswa di sekolah yang meliputi:
1) Mencatat.
Menulis dan mencatat merupakan kegiatan yang tidak dipisahkan dari aktifitas belajar. setiap orang mempuanyai cara tertentu dalam mencatat pelajaran karena menusia memiliki kemampuan dan pengetahuan yang berbeda sehingga berbeda pula dalam menilai dan memilih bahan pelajaran yang akan dicatat. Djamarah (2002: 82) dalam bukunya rahasia sukses belajar mengatakan: “menulis atau mencatat adalah kegiatan yang berupaya untuk memadatkan isi dengan landasan kerangka dasarnya dan menghilangkan pikiran jabaran-jabaran”
Mencatat tidak sekedar mencatat tetapi mencatat yang mendukung pencapaian tujuan belajar, karena mencatat peserta didik akan dapat menampung sejumlah informasi yang mendukung. Membuat catatan memerlukan pemikiran, jadi tidak sama dengan menyalin. Catatan itu harus merupakan outline atau rangkuman yang memberi gambaran tentang tentang garis-garis besar dari pelajaran itu gunanya ialah membantu kita mengingat pelajaran (Slameto, 2003: 82).
2) Diskusi
Diskusi merupakan proses interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi memecahkan masalah dalam diskusi semua individu tersebut bisa aktif tidak ada yang pasif sebagai peserta saja (Roestiyah, 2001: 5).
Diskusi mempunyai peran besar dalam membentuk pemahaman siswa tehadap suatu materi serta dapat membentuk suatu kepribadian siswa. Manfaat dari diskusi adalah dapat mengembangkan motivasi intrinsik serta pengertian terhadap materi lebih baik dari yang cukup jelas menjadi jelas” (Djamarah, 2002: 17).
Dari beberapa pendapat diatas dapat dipahami diskusi dapat membuat siswa untuk bebas berpikir. Metode diskusi adalah menunjukkan efektifitas untuk berpikir secara kritis, pemecahan masalah dan komunikasi antara pribadi. Karena dalam proses belajar mengajar sehari-hari siswa sering menghadapi problem yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan satu jawaban atau pengetahuan dalam rangka mencari jalan terbaik.
3) Keaktifan Siswa Mengerjakan Tugas
Tugas di sekolah mencakup mengerjakan latihan-latihan, ulangan harian, ulangan umum ataupun ujian baik yang tertulis maupun yang lisan. Kegiatan belajar tidak hanya belangsung di dalam kelas atau di sekolah, tetapi dapat juga di liuar sekolah. kegiatan belajar di luiar sekolah pada umunya berlangsung tanpa pengawasan atau bimbingan langsung dari guru. Agar para siswa belajar diluar kelas atau disekolah, maka penggunaan peberian tugas merupakan metode yang paling tepat. Pemberian tugas dapat diberikan secara individual ataupun kelompok, pemberian tugas bukan ditunjukkan untuk meghukum atau mempersulit siswa, tetapi memperjelas, memperkaya, memperdalam bahan yang diberikan didalam kelas. adapun bentuk pemberian tugas kepada siswa bisa dengan bentuk menjawab pertanyaan/soal, membuat gambar, membuat kliping, dan lain sebagainya (Ibrahim, 2003: 48).
Agar siswa berhasil dalam belajarnya perlu mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Tugas itu mencakup mengerjakan pekerjaan rumah (PR) ataupun ujian baik yang tertulis maupun lisan. Dalam menghadapi tugas-tugas diatas perlu dilaksanakan langkah-langkah persiapan sebagai berikut:
a) hindarilah belajar terlalu banyak pada saat-saat terakhir menjelang tes (semua bahan hendaknya sudah siap jauh-jauh mungkin
b) pelajarilah kembalai bahan yang sudah pernah didapat secara teratur sehari atau dua hari sebelumnya
c) buatlah ringkasan atau garis besar tentang bahan yang sedang dipelajari kemali itu
d) pelajarilah juga latihan-latihan soal dan hasil tugas yang sudah dikerjakan
e) siapkanlah segala alat atau perlengkapan yang diperlukan seawal mungkin
d. Pencegahan Pelanggaran Tartib diluar Kelas
Sekolah sebagai lembaga formal perlu adanya peraturan dan tata tertib. Tata tertib sekolah ini mengatur kehidupan siswa yang bersifat ekstra kurikuler dan intra kurikuler sehingga kedua aspek kehidupan tersebut wajib ditaati oleh siswa. Di sekolah siswa wajib disiplin dengan kedisiplinan maka segala sesuatunya dapat berjalan dengan dengan tertib dan baik. Sebaliknya sekolah tanpa adanya disiplin sering terjadi pelanggaran terhadap tata tertib, maka hidup di sekolah akan menjadi kacau.
Perbuatan yang merupakan masalah pelanggaran ketertiban antara lain siswa membolos, datang terlambat dan sebagainya. Penyelesaian masalah tersebut hendaknya tidak hanya diselesaikan secara administratif tetapi diperlukan kebijaksanaan lain.
Sehubungan dengan hal tersebut dapat dikatakan bahwa pelanggaran terhadap tata tertib yuang terjadi disekolah disebabkan beberapa faktor, antara lain:
1) Mencegah tindakan siswa yang membolos
Suka membolos atau meninggalkan pelajaran mengakibatkan siswa ketinggalan pelajaran. Lebih-lebih bila pelajaran itu bersifat prerekuisit (misalnya matematika) maka kerugian akan menjadi dari studinya. Secara preventif dianjurkan kepada guru agar meningkatkan profesionalitasnya. Dalam proses belajar mengajar (PBM) sehingga pelajaran lebih menarik minat belajar siswa, baik secara metodologis maupun penggunaan multi media, serta alat peraga yang populer dan inovatif, kreatif.
Sesungguhnya bila proses belajar mengajar (PBM) semakin menarik minat belajar siswa baik secara metodologi maupun penggunaan multi media, serta alat peraga yang populer dan inovatif, keratif. Sebaliknya proses belajar mengajar (PBM) yang membosankan akan meningkat hasratkan hasrat membolos bagi para siswanya, dengan melaukukan pendekatan eduktaif kepada para pembolos serta meningkatkan disiplin pengajarannya disertai instrospeksi terhadap cara pengajarannya masing-masing.
Diskusi dengan guru mata pelajaran sejenis serta guru-guru senior/pakar sangat diperlukan jangan hanya melakukan tindakan sepihak dengan melemparkan kesalahan pada siswa. Mungkin sistem intruksional guru sendiri yang direvisi dan ditingkatkan serta sistem evaluasinya perlu ditinjau kembali, jangan bernafsu memberikan tes sukar, akan tetapi berikan beberapa soal yang dapat menghasilkan sukses, sehingga siswa tidak mudah patah semangat, dekatilah siswa-siswa anda agar mengungkapkan problem-problem yang perlu dipecahkan, terutama yang merupakan kendala belajar atau PBM.
2) Mencegah siswa yang tidak mematuhi seragam sekolah
Sudah menjadi peraturan pemerintah, bahwa disetiap sekolah SD, SLTP, SMA sudah ada seragamnya sendiri-sendiri yang artinya setiap jejang pendidikan mempunyai seragam sekolah tidaklah sama agar siswa dapat menggunakan seragamnya. Dengan baik dan tertib akan tetapi masih banyak siswa yang sering melanggar sehingga para guru memberikan peringatan-peringatan antara lain:
a) teguran
Jika pemberiatahuan itu diberikan kepada anak yang mungkin belum mengetahui tentang sesuatu hal maka teguran ini berkalu bagi anak yang telah mengetahui. Jadi perbuatan anak itu dapat dikatakan sebagai suatu polanggaran terhadap tata tertib sekolah. teguran di berikan kepada anak yang baru satu atau dua kalimat melakukan pelanggarakan belum berhak diberikan hukuman kepada anak ini cukuplah apabila diberi teguran saja. Teguran ini dapat berupa kata-kata tetapi dapat juga berlaku isyarat-isyarat.
b) Peringatan
Peringatan diberikan kepada anak yang telah beberapa kali melakukan pelanggaran. Dan telah diberikan teguran pula atas pelanggarakannya dalam memberikan peringatan ini biasanya disertai dengan ancaman akan sangsinya bilamana terjadi pelanggaran lagi.
c) Hukuman
Hukuman adalah yang paling akhir diambil apabila teguran dan peringatan belum mampu untuk mencegah anak melakuka pelanggaran-pelanggaran maka hal ini kita berikan hukuman atau staf kepada anak mengenai hukuman ini akan dibicarakan dalam bagian tersendiri dibawa.

G METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN
Untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas membutuhkan metode dan prosedur penelitian yang mendukung terhadap input kualitas data dan akurasi terhadap fokus penelitian. Sebab pada dasarnya metode dan prosedur penelitan merupakan cara untuk menemukan, mengembangkan dan mengkaji suatu kebenaran pengetahuan (Hadi, 1993: 3).
Dalam penelitian ini digunakan metode dan prosedur penelitian sebagai berikut:
1. Jenis dan Pendekatan Penelitan.
Jenis penelitan ini adalah kualitatif, yaitu suatu penelitan yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan untuk memberi gambaran penyajian, penyajian laporan tersebut. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi dan dokumen resmi lainnya. Penulisan laporan demikan, peneliti menganalisis data tersebut dan sejauh mungkin data lainnya. (Moleong, 2004: 9).
2. Penentuan Informan.
Adapun teknik penentuan informan yang digunakan penelitian ini adalah teknik purposif sampling, yaitu pemilihan sekelompok subyek yang didasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai keterkaitan yang erat dengan perumusan masalah dan tujuan penelitian ini (Arikunto, 1991: 82).
Sedangkan prosedur pelaksanaannya adalah memilih informan yang dipandang paling mengetahui terhadap masalah yang dikaji. Adapun informan dalam penelitan ini ditetapkan sebagai berikut:
a. Kepala sekolah
b. Dewan guru
c. Guru BK
d. Wali kelas.
3. Metode pengumpulan data.
Untuk memperoleh data yang diperlukan, maka dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan data dengan penggunakan metode sebagai berikut:
a. Obsevasi
Metode observasi adalah suatu cara mengadakan penyelidikan dengan menggunakan pengamatan terhadap suatu obyek dari suatu peristiwa atau kejadian yang akan diteliti (Hadi, 1993: 136) dalam penelitian ini digunakan observasi sistem, atis, dimana peneliti melakukan langkah sistematis dalam mengamati obyek penelitian dengan m,enggunakan pedoman instrumen observasi, sehinmgga dapat menghasilkan data yang sesuai dengan fokus masalah yang telah ditetapkan (Arikunto, 1991: 146).
Metode tersebut digunakan untuk memperoleh data tentang kondisi umum dari subyek dan kondisi sosial serta sebagai dinamika dalam konteks pelaksanaan bimbingan dan pendidikan di sekolah.
Konseling dalam rangka pencegahan pelanggaran tata tertib sekolah siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang.
b. Interview
Metode interview (wawancara) adalah teknik mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden. Pencakapan dengan maksud tertentu. Pencakapan itu dilakukan dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang ditanyai memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2000: 135).
Data-data yang ingin diperoleh dalam metode ini adalah:
1) Informasi tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam rangka pencegahan pelanggaran tata tertib sekolah siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang Tahun ajar 2005-2006.
2) Informasi tentang sejarah berdiri dan berkembangnya Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang.
3) Eksistensi Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang
c. Dokumenter.
Untuk menunjang keberhasilan penelitan ini juga digunakan metode dokumenter, yaitu suatu metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan atau transkip, majalah, surat kabar, notulen rapat, agenda dan sebagainya (Arikunto, 1991: 206).
Dengan demikian metode dokumenter ini adalah teknik untuk mempelajari data yang sudah tercatat dalam beberapa dokumen, dimana data tersebut dapat dijadikan bahan dalam melengkapi data yang dibutuhkan dlam penelitan.
Adapun data yang dibutuhkan dalam penelitan ini adalah sebagai berikut:
1) Data tentang sejarah Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang tahun 2005-2006.
2) Sebagai uji atas informasi penting dalam lembaga pendidikan atau yang lain, berkenaan dengan materi penelitian yang dipandang mendukung terhadap kevalidan penelitian.
3) Dokumen-dokumen yang terkait dengan pelaksanaan bimbingan dan koneseling dalam rangka pencegahan pelanggaran tata tertib sekolah siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Klakah Lumajang
4. Metode Analisa Data
Untuk menyajikan data secara utuh dan koheren, langkah selanjutnya yang ditempuh dalam penelitan ini adalah melakukan analisa data. Analisa data adalah upaya mencari dan metata cara sistem catatan hasil observasi, wawancara, dokumentasi. Untuk meningkatkan pemahaman penelitian tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain, sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan untuk mencari makna (Muhajir, 2000: 142)
Dengan demikian peneliti tidak hanya sekedar menafsirkan data tetapi lebih dari itu mampu memahami makna dibalik realitas obyek penelitian. sebab analisa data merupakan suatu proses pengorganisasian pengurutan data dalam pola, katagori dan satuan urutan dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang dirasakan data (Moleong, 2004: 103)
Dalam penelitian ini dugunakan teknik analisa data deskriptif reflektif yaitu suatu analisa yang menggambarkan fenomena-fenomena secara obyektif yang terdapat di obyek penelitian selanjutnya dianalisis dengan mendialogkan data teoritik dan empirik secara berbolak-balik dan kritis (Tim STAIN, 2002: 16)
Dalam analisa data menurut Huberman (1992: 15-21) terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersama-sama yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
a. Reduksi Data
Reduksi data digunakan sebagai proses pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul drai catatan tertulis di lapangan dan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulen-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
b. Penyajian Data.
Dalam hal ini penyajian data merupakan langkah merancang deretan kolom-kolom sebuah matrik. Untuk data kualitatif dan memutuskan jenis dan bentuk data yang harus dimasukkan ke dalam kotak-kotak matrik.
c. Penarikan Kesimpulan.
Penelitian yang berkompeten akan menganalisa kesimpulan-kesimpulan itu dengan longgar dan tetap terbuka. Tetapi kesimpulen sudah disediakan mula-mula belum jelas kemudian meningkat menjadi lebih rinci.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar